Aku Menunggumu
Tuan, saya
menulis ini ketika pertengkaran kita entah yang telah keberapa kembali meledak
lagi. Masalahnya sepele dan selalu sepele, selalu aku yang lebih dulu tersentak
dan tersentuh. Aku tak tahan lagi dengan jarak yang menjauhkan kita, dengan
rasa sakit yang tidak kaupahami, dengan ribuan hasutan banyak orang agar tidak
mempercayaimu, dengan teriakan hati yang masih ragu akan kehadiranmu, dengan
kata cinta yang selalu kaubisikkan itu, dengan perbedaan kita, dengan status
kita yang serba tak jelas, terakhir; dengan jalan keluar yang tak juga kita
temukan.
Aku tak
tahu, Sayang, apakah langkah untuk mencurigaimu adalah hal yang benar atau hal
yang salah. Mungkin, aku merasa terlalu tolol dan bodoh untukmu, aku merasa
kamu terlalu sempurna dan terlalu baik untukku. Lihatlah dirimu. Kamu tampan,
muda, punya segalanya, bekerja di pertambangan, dipuja banyak wanita, punya
segalanya, punya penggemar, punya kharisma yang menghipnotis setiap wanita.
Sedangkan, aku.... siapa aku di matamu, Sayang? Aku ini terlalu kecil, terlalu
kedil, aku hanya seorang gadis semester empat, di jurusan kuliah yang banyak
orang mengira hanya bisa membuat puisi dan sajak, aku kalah cantik dengan
wanita-wanita yang menggilaimu serta memujamu. Aku tetap merasa bukan siapa-siapa
meskipun ribuan janji dan kata cinta kamu luapkan padaku.
Aku lelah
pada semua khayalan itu. Pada janjimu untuk bertemu, pada bayang semu yang
kausuguhkan, pada kata cinta yang mungkin saja bualan, pada ucapan rindu yang
masih abu-abu, pada rencana-rencanamu yang mungkin tak kupahami, pada maksud
terselubungmu untuk mendekatiku. Kamu masih sangat buram di mataku, kamu
menjelma menjadi awan kabut yang begitu sulit tersentuh matahari, kaubangun
kemegahanmu sendiri, dan aku nyaman pada segala yang tak pasti, yang kauberikan
dengan berani, yang seakan semua terlihat bukanlah sekadar mimpi.
Aku lelah
pada setiap percakapan yang hanya bisa kita jalin lewat pesan singkat dan
telepon. Aku lelah dengan ceritamu tentang mantan-mantanmu. Aku lelah menerima
kenyataan bahwa aku sangat sulit masuk ke dalam duniamu. Aku sengsara
mengetahui hal yang sebenarnya bahwa mungkin saja kita tak benar-benar
mencintai, mungkin saja aku dan kamu hanya terjebak dalam ketertarikan sesaat,
ketertarikan tolol yang selama ini kita deskripsikan sebagai cinta. Aku tak
tahu, Sayang, aku sungguh tak tahu apa maksud dan tujuanmu untuk mendekatiku.
Masa iya, sih, pria seberlian kamu mau saja dengan gadis tanah liat seperti
aku?
Kamu tidak
lelah dengan jarak dan perbedaan ini? Dengan amarah dan emosiku yang naik turun
setiap kali kita menjalin percakapan di telepon, dengan angkuhnya perbedaan
yang membuat kita seakan berjarak, dengan setiap air mata yang terjatuh; air
matamu dan air mataku yang tiba-tiba saja terjatuh padahal kita tak pernah
bertemu sebelumnya, tak pernah saling menggenggam tangan, tak pernah saling
berciuman, tak pernah saling bertatap mata, tak pernah terlihat seperti
pasangan normal lainnya.
Di antara
semua rasa lelah itu, Sayang, sebenarnya aku menyukai kehadiranmu, dan
perkenalan kita selama satu bulan ini benar-benar mengajariku banyak hal. Kamu
yang begitu tampan hampir saja mengubah persepsiku bahwa tak semua pria menilai
wanita dengan fisik, kamu tidak menuntut segalanya, kamu meluangkan waktumu di
antara kesibukanmu, kamu berkata sayang ketika aku butuhkan banyak perhatian,
kamu layaknya kakak, kekasih, belahan jiwa. Dan, atas semua dasar perasaan itu;
aku semakin takut kehilangan kamu.
Aku takut
kebersamaan yang telah membuatku nyaman ini, ternyata hanyalah drama yang
kaubuat sedemikian rupa hanya untuk menghancurkan yang selama ini kubangun. Aku
takut bahwa semua kata cinta dan janji itu hanyalah kebohongan yang
kaulontarkkan karena bisa saja kamu sakit jiwa. Aku takut, sungguh sangat takut
memikirkan banyak wanita yang mendekatimu dan memujamu, kamu bisa saja
berpaling, menjauh, dan melupakanku ketika aku tak lagi membuatmu penasaran.
Setiap kita
bertengkar, kamu selalu membuat suaramu terdengar seperti menangis dan parau.
Aku tak tahu apakah benar di ujung pulau sana kaubenar-benar meneteskan air
mata yang sungguh-sungguh? Aku tak tahu drama macam apa yang kaumainkan, tapi
sekali lagi aku masih berada di tengah-tengah, dalam keadaan sangat mencintaimu
tapi di sisi lain sangat ragu padamu, dalam keadaan sangat mencurigaimu tapi
masih sangat ingin percaya bahwa semua sungguh nyata dan bukan bualan belaka.
Aku
ketakutan, Sayang, namun dalam percakapan telepon tadi, kamu masih
meyakinkanku. Kamu, dengan suaramu yang tak terlalu berat itu memintaku
bersabar lebih lama lagi. Kamu, pria yang selalu mempercayaiku untuk mendengar
segala keluh-kesahmu mengenai pekerjaanmu itu menangis dan memohon, agar aku
tak lagi merengek untuk meminta pertemuan nyata. Kamu meyakinkanku,
berkali-kali, bahwa pertemuan kita akan terjalin, cepat atau lambat, dan
senjatamu selalu itu-itu terus, "Ingat judul bukumu yang keempat, Jodoh
Akan Bertemu." Sialan! Gombalan yang berkali-kali kamu ucapakan namun tak
membuatku muak.
Malam ini,
dalam percakapan kita, kamu bercerita bahwa kamu sengaja pulang lebih cepat
dari kilang minyak karena ingin membicarakan banyak hal bersamaku. Waktu kita
memang hanya ada saat malam minggu, saat aku dan kamu berusaha tidak
menyibukkan diri, dan kita sama-sama berbicara tentang mimpi (yang kita
harapkan segera menjadi nyata). Kamu selalu bilang, Senin sampai Jumat, kamu
jarang punya waktu untukku, maka di hari Sabtu; kamu seutuhnya milikku. Itu
gombalan yang tidak membuatku muntah meskipun berkali-kali kamu ucapkan. Kamu
selalu memintaku untuk bersabar menunggu, untuk setia menyimpan rindu, sampai
Tuhan mengizinkan kita bertemu.
Kamu selalu
memintaku untuk bersabar menunggumu di Jakarta, karena kamu akan pulang,
membawa banyak sekali cerita dari pulau tempatmu bekerja, membawa banyak
kenyataan yang dulunya hanya bisa kita bicarakan lewat telepon, membawa
pelukan, kecupan, rangkulan, dan membalas dendam pada jarak yang selama ini
menganggap bahwa kita akan kalah lebih dulu.
Oke,
kutunggu kamu.
Pulanglah
lebih cepat.
Saya
sekarat.
Saat hujan
di kota penghujan
02:44, sehabis
berbicara dengamu di ujung telepon.
0 komentar:
Posting Komentar