Senin, 19 Mei 2014

Diposting oleh Unknown di 02.52 0 komentar
Satu-Satunya
            “Aku hanya memiliki dia.” ucap Pengkhianat santai. “Dia satu-satunya yang kupunya.”
            Cinta terdiam dan sesekali menghela napas. “Perempuan jalang!”
            “Apa salahku?” keluh Pengkhianat dengan wajah tak berdosa.
            “Kamu menyakitinya tolol!” Cinta membentak dengan kasar, ia tak mampu lagi menahan emosinya.
            “Aku menyakitinya?” ulang Pengkhianat dengan wajah seakan-akan tak melakukan kesalahan. “Dia masih milikku kan?”
            “Hatinya memang milikmu, tapi bukan berarti kaubebas mematahkannya!”
            Pengkhianat menatap dengan tatapan tajam, semakin tajam seperti menusuk Cinta dengan ribuan pedang. “Memangnya kamu siapa? Pahlawannya?”
            Ucapan itu terasa sangat menghujam, Cinta menutup mulutnya rapat-rapat. Ia berpikir keras tentang jati dirinya yang belum juga terjawab. Cinta itu siapa? Mengapa dia begitu tak tega jika Jujur disakiti oleh Pengkhianat. Cinta berpikir keras, semakin keras hingga keringatnya mengucur deras.
            “Aku bukan siapa-siapa.” desah Cinta lembut, seperti ada tangis yang terdengar menyayat dalam ucapannya.
            “Sudah tahu bukan siapa-siapa kenapa masih bersikap sok pahlawan?” Pengkhianat bertolak pinggang, ia menaikkan alisnya. “Aku wanita jalang, tapi kamu wanita bodoh!”
            Cinta tak berani menatap wajah Pengkhianat, ia seakan-akan mati rasa dan tak tahu lagi harus mengeluarkan kata-kata apalagi. Kosakata di kepalanya seakan-akan terhapus dan terbawa lari ke dunia antah berantah yang tak mampu Cinta capai. Cinta masih bergumul dengan perasaannya dan berharap rasa  keterpurukan itu tak semakin menghantuinya.
            “Kamu memang pernah menjadi segalanya bagi Jujur, tapi kamu tak berhak menyakiti dia lebih lama lagi!”
            “Aku menyakitinya?” suara Pengkhianat terdengar licik disertai dengan tawa sinis. “Aku hanya ingin merasakan pelukan hangat beberapa pria dan merasakan bibir manis pria-pria lainnya. Apa aku salah?”
            “Jangan jadikan dia korban! Dia sangat mencintaimu!”
            “Berarti aku hebat?”
            Tangan Cinta mengepal kuat, rasanya ia ingin melayangkan tinju bertubi-tubi ke wajah yang membuat dirinya naik pitam. Ia masih berusaha menahan emosinya, dan sesekali melirik ke arah Jujur. Pria itu terlihat lemah dan tak berdaya, wajahnya yang pucat mengintip sesekali dari balik jendela. Cinta begitu berjarak dengan Jujur, namun ia masih bisa merasakan apa yang dirasakan oleh jujur. Wanita ini, Cinta, tahu kalau Jujur sedang kebingungan setengah mati.
            “Kamu selalu hebat wanita jalang!” seru Cinta dengan desis yang lirih namun menghujam. “Tapi, kali ini kamu tidak akan kubiarkan menang!”
            “Tidak akan menang?!”
            Cinta menangguk pelan.
            “Kamu hanya dibodohi pria itu! Jujur tak pernah mencintaimu!”
            “Tidak masalah buatku.”
            “Tidak masalah?”
            “Asal dia bahagia. Cukup.”
            “Omong kosong!”
            “Aku tidak pernah bohong, Jujur memang selalu mencintaimu dan ia sangat sulit melupakanmu.”
            Pengkhianat tertawa pelan. “Sekali lagi... aku menang!”
            “Kamu belum tentu menang.” Cinta mengujar dengan pasti. “Waktu bisa mengubah banyak hal yang tak kautahu!”
            “Aku masih segalanya bagi Jujur! Kamu hanyalah persinggahan baginya! Pelarian! Haha!”
            “Kamu boleh tertawa di awal, tapi jangan salahkan aku kalau air matamu terjatuh di akhir!”
            Setiap frasa yang terucap dari bibir Cinta terdengar menohok. Kalimat itu membuat Pengkhianat terdiam, ia mencerna setiap kata yang Cinta ucapkan.
            “Tidak perlu kausumpahi, Cinta.” tanggap Pengkhianat terdengar enteng. “Aku memang akan selalu tertawa!”
            “Aku tahu sebenarnya kautidak bahagia. Kamu tertawa di atas tangis orang lain, kebahagiaan semu!”
            Tawa Pengkhianat berubah menjadi wajah yang masam. “Kamu tidak akan bahagia bersamanya, Cinta. Percayalah. Jujur hanya mencintai aku. Akulah yang selalu ada di pikiran Jujur.”
            “Untuk saat ini kaumemegang kendali hatinya, tapi untuk saat-saat berikutnya ia akan sadar dan membuka matanya, kaubukan siapa-siapa lagi, wanita jalang!”
            “Kamu benar-benar mencintainya?”
            Nada tanya yang tiba-tiba menyambar cinta itu langsung mendiamkan pita suara Cinta. Ia bergumam dalam-dalam di hatinya.
            “Aku benar-benar mencintainya.”
            “Jika dia tak mencintaimu?”
            Tanpa pikir panjang, cinta bergumam. “Untuk alasan apapun, aku tetap mencintainya.”
            “Jika dia tak akan pernah mencintamu?”
            “Bagiku, melihat senyumnya sudah cukup.”
            “Cukupkah?’
            Cinta mengangguk, ia kembali menatap Jujur dengan tatapan penuh arti. Jujur menangkap sinar mata Cinta, dan tatapan itu membuka mata Jujur semakin lebar. Sudah beberapa menit Cinta berdebat dengan Pengkhianat, ia ingin semuanya sampai pada klimaks. Botol minum yang ada di jemari kirinya masih ia remas gemas, ia menatap mata Pengkhianat dengan tatapan sinis dan menyiramkan semua isi botol itu di tubuh Pengkhianat.
            “BUATMU!” tangan Cinta melibas wajah Pengkhianat dengan botol minum juga sedikit tinju yang lumayan. Cinta mengelak kencang.
            Langkah Cinta terasa ringan, ia menghampiri Jujur dengan wajah berseri-seri. Tangannya mengetuk pintu dan Jujur segera berlari menghampiri Cinta.
            Jujur segera memeluk Cinta lekat dan rapat. Ia mencium lembut kening Cinta.

            “Jadilah masa depanku.”

Mungkin, aku terlalu berharap banyak

Diposting oleh Unknown di 02.49 0 komentar
Mungkin, aku terlalu berharap banyak
Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.

Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan?

Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?

Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah?

Janjimu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan lagi berkali-kali. Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan – juga kautinggalkan?

Apakah aku tak berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kauterus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.

Sadarkah jemarimu selalu lukai hatiku? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.

Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?

Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang berkata sayang dengan gampangnya.

dari seseorang yang kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya


Untuk "Mainan Lama" yang Telah Menemukan "Pemilik Baru"

Diposting oleh Unknown di 02.48 0 komentar
Untuk "Mainan Lama" yang Telah Menemukan "Pemilik Baru"
Kudengar kautelah bahagia bersama pilihanmu. Bahagia bersama pilihanmu? Apakah kamu tidak mendapat kebahagiaan bersamaku? Dan... katanya lagi, kamu telah menemukan dirimu dan duniamu bersama dalam diri kekasih barumu. Betulahkah? Memangnya kalau bersamaku kautidak mendapatkan kedua hal itu?

Aku masih ingat bagaimana kita berusaha untuk saling mengucap kata pisah dan berusaha saling melupakan. Aku tak butuh waktu lama untuk menghempaskan dan membunuh penjahat bodoh seperti kamu. Tapi... kamu? Aku sangat yakin bahwa kamu harus jungkir-balik dan berusaha dengan keras untuk mengendalikan amukan perasaanmu. Aku sangat tahu bahwa kamu belum benar-benar melupakanku, kamu belum benar-benar menghapus aku dalam sistem kerja otakmu. Sebenarnya... aku masih menjadi duniamu, dan kamu adalah gravitasi yang terus-menerus menahanku, hingga aku bosan dan jera pada perlakuan bodohmu.

Jangan berpikir bahwa aku terluka. Jangan sengaja mempersepsikan bahwa aku tak bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik darimu. Aku tidak sebodoh kamu. Karena seorang "dalang" harus lebih pintar dari "wayangnya". Karena seorang "pemilik" harus lebih pandai daripada "bonekanya". Menyenangkan bukan? Kita bermain di panggung yang sama, berganti-ganti peran sesukanya, berganti-ganti topeng semaunya.

Kamu adalah "boneka" yang mudah kuatur dan kuhempaskan. Kamu adalah "mainan" yang bisa kumanfaatkan sesuka dan semauku. Kalau kaupikir kaulah yang telah mempermainkanku, maka kau kembali menafsirkan hal yang salah. Kamu adalah salah satu "boneka" terbodoh yang pernah aku miliki. Salah satu? Ya... salah satu! Aku punya banyak "mainan" seperti kamu, namun diantara mereka tak ada yang sebodoh dan sebanyak gaya kamu.

Kamu sudah punya "pemilik baru" ya? Tentu saja "pemilik barumu" sama bodohnya seperti kamu. Kamu tahu pernyataan tentang orang yang memiliki harus memberi pada yang tak memiliki? Begitu juga aku, aku harus memberi "mainan lama" untuk "pemilik baru", kalian sama, sama bodohnya!

Rasanya sangat aneh kalau kaumerasa jauh lebih pintar daripada aku. Rasanya sangat menjijikan kalau kaumerasa lebih dewasa daripada aku. Kamu tak punya hak untuk mengatur dan menata hidupku! Kamu hanyalah "boneka" yang kucari ketika aku bosan dengan kebisingan dunia. Karena... sebenarnya... aku tidak berbohong jika aku berkata bahwa dalam dirimu aku menemukan ketenangan tersendiri. Dalam sepaket tawa renyahmu, aku temukan air mata yang selalu berubah menjadi tawa. Dalam aliran hening suaramu, ada bahagia yang tiba-tiba berdecak dalam getaran waktu. Dan... di dalammu, aku merasakan semua itu.

Memang aku sedikit menyesal ketika kita memutuskan untuk saling pisah dan saling mencari kebahagiaan masing-masing. Aku sedikit khawatir, apakah kamu-yang-selalu-berkata-mencintaiku akan menemukan kebahagiaan baru melebihi kebahagiaan yang kuberikan padamu? Aku takut jika dinginnya dunia membuatmu menggigil. Aku takut jika kerasnya dunia menyiksa batinmu yang terlalu sering disakiti itu.

Tapi... Ya sudahlah! Semua telah berlalu. Aku telah melepas rantai yang sempat membuat kakimu terjerat. Aku telah menghancurkan tembok yang menjadikan duniamu memiliki banyak sekat. Aku telah melepasmu agar kamu mampu mencari kebahagiaanmu sendiri, dan berhenti menjadi "mainan" yang selalu membahagiakanku meskipun luka tersayat pelan-pelan di hatimu.

Sekarang, kamu sudah bersama "pemilik baru", walaupun aku tahu dia mungkin tak sebaik aku, tapi berusahalah kuat dengan apapun yang terlihat baru di matamu, yang baru dan berbeda tak selamanya berarti keburukan. Kini... kaubisa bebas melakukan apapun tanpa batasan yang kuberikan untukmu. Kini... kaubisa miliki duniamu seutuhnya. Kulepaskan tali penggerak tubuhmu dan nikmatilah kebebasanmu.

Untuk "mainan lama" yang telah memiliki "pemilik baru", semoga hanya aku yang mengerti cara menggerakkan tubuhmu. Semoga hanya aku yang mampu membaca kebohongan di matamu.


Sepertinya Aku Mencintaimu

Diposting oleh Unknown di 02.48 0 komentar
Sepertinya Aku Mencintaimu
Awalnya, matamu dan senyummu tak berarti apa-apa bagiku. Sapa lembutmu, tutur katamu, bukan menjadi alasan senyumku setiap harinya. Semua mengalir begitu saja, kita tertawa bersama, kita menghabiskan waktu bersama, tanpa tahu bahwa cinta diam-diam menyergap dan menyeringai santai dibalik punggungmu dan punggungku. Kita saling bercanda, menertawakan diri sendiri, tanpa tahu bahwa rasa itu menelusup tanpa ragu dan mulai mengisi labirin-labirin hatimu dan hatiku yang telah lama tak diisi oleh seseorang yang spesial.

Tatapan matamu, mulai menjadi hal yang tak biasa di mataku. Caramu mengungkapkan pendapat, tak lagi menjadi hal yang kuhadapi dengan begitu santai. Renyah suara tawamu menghipnotis bibirku untuk melengkungkan senyum manis, menyambut lekuk bibirmu yang tersenyum saat menatapku. Aku tahu semua berubah menjadi begitu indah, sejak pembicaraan yang sederhana menjadi pembicaraan spesial yang begitu menyenangkan bagiku. Aku bertanya ragu, inikah kamu yang tiba-tiba mengubah segalanya jadi merah jambu?

Tanpa kusadari, namamu sering kuselipkan dalam baris-baris doa. Diam-diam aku senang menulis tentangmu, tersenyum tanpa sebab sambil terus menjentikkan jemariku. Tanpa kesengajaan, kauhadir dalam mimpiku, memelukku dengan erat dan hangat, sesuatu yang belum tentu kutemukan dalam dunia nyata saat aku terbangun nanti. Hari-hariku kini terisi oleh hadirmu, laju otakku kini tak mau berhenti memikirkanmu, aliran darahku menggelembungkan namamu dalam setiap tetes hemoglobinnya. Berlebihan kah? Bukankah mahluk Tuhan selalu bertingkah berlebihan ketika sedang jatuh cinta?

Saat menatap matamu, ada kata-kata yang sulit keluar dari bibirku. Saat mendengar sapa manjamu, tercipta rasa yang begitu lemah untuk kutunjukkan walaupun aku sedang berada bersamamu. Aku diam, saat menatap matamu apalagi mendengar suaramu. Aku membiarkan diriku jatuh dalam rindu yang mengekang dan membuatku sekarat. Aku membiarkan diriku tersiksa oleh angan yang kauciptakan dalam magisnya kehadiranmu. Astaga Tuhan, ciptaanMu yang satu ini membuatku pusing tujuh keliling!

Setiap malam, ketika dingin menyergap tubuhku, aku malah membayangkanmu, bagaimana jika kamu memelukku? Bagaimana jika ini? Bagimana jika itu? Ah, selain indah ternyata kamu juga pandai menganggu pikiran seseorang, sehingga otakku hanya berisi kamu, kamu, dan kamu dalam berbagai bentuk!
Sepertinya aku mencintaimu…
Pada setiap percakapan kecil yang berubah menjadi perhatian sederhana yang kauperlihatkan padaku.
Sepertinya aku mencintaimu…
Dengan kebisuan yang kausampaikan padaku. Kita hanya berbicara lewat tatapan mata, kita hanya saling mengungkapkan lewat sentuhan-sentuhan kecil.
Sepertinya aku mencintaimu…
Karena aku sering merindukanmu, karena aku bahkan tak tahu mengapa aku begitu menggilaimu
Sepertinya aku mencintaimu…

Kepada kamu, yang masih saja tak mengerti perasaanku.

Tuan Chucky Flucky

Diposting oleh Unknown di 02.46 0 komentar
Tuan Chucky Flucky
 untuk pria manis disampingku
yang memilih hilang
tanpa bilang-bilang

                Langit senja ini sedikit membawa kesejukkan di dada. Sehabis revisi skripsi tadi, rasanya kepalaku mau meledak mendengar ocehan dosenku, semua yang kulakukan seakan salah di mata beliau. Belum lagi editor-ku terus mengirim pesan agar revisi novel segela dirampungkan. Ingin kumuntahkan seluruh isi perutku ke wajahnya karena revisi ini sudah memasuki revisi keenam, apakah sebegitu tololnya aku?
                Aku terus melajukan mobil di antara padatnya jam pulang kantor. Di jam-jam seperti ini Depok layaknya jalur Gaza, seluruh pengguna jalan tak ada yang ingin mengalah. Setiap pengendara berebut untuk ngebut, aku berkali-kali menghela napas kesal karena keluar dari gerbang UI, mobilku kembali terkena macet di perjalanan menuju Margonda. Sesekali aku menatap langit untuk menyerap keteduhan dan berharap rasa kesalku hilang, kuputar lagu Tulus kemudian lagu Teman Hidup memenuhi seluruh mobilku.
                Beberapa menit kemudian, kuarahkan mobilku parkir di sebuah rumah makan dekat Lawson; Warung Pasta. Setelah mobil berhasil kuparkir, aku menata dandanan di wajahku dan merapikan rambutku yang ikut berantakan layaknya tugasku yang berantakan. Aku membawa beberapa buku untuk bahan skripsi di tangan kiriku dan membawa tas berisi laptop di tangan kananku. Langkahku mantap memasuki rumah makan tersebut.
                “Mau meja yang di atas lagi, Mbak?” sapa seorang perempuan yang dengan ramah mengajakku bicara.
                Aku mengangguk dengan senyum yang sama ramahnya, “Untuk satu orang.”
                Wanita itu, masih dengan senyum yang ramah, mengantarku ke meja atas. Tempat favoritku yang dekat dengan jendela, dekat dengan sumber energi untuk menjaga laptopku tetap menyala. Aku segera duduk dan mengucapkan terima kasih. Wanita itu pergi meninggalkanku dengan janji akan ada temannya yang lain untuk melayaniku.
                Aku sudah sibuk dengan laptop-ku, membuka halaman-halaman buku untuk segera merampungkan revisi skripsiku. Keseriusanku tak buyar bahkan ketika seseorang menghampiriku, dengan aroma parfum yang sangat laki-laki sekali.
                “Selamat sore, saya Andry. Kakak, silakan lihat menunya. Mau pesan apa?”
                “Chucky Flucky pastanya spaghetti, ukurannya medium. Calamari satu. Minumnya Italian Chocolate satu.” jawabku seadanya tanpa melihat menu, juga tanpa melihat pria itu bareng sedetik pun.
                Kudengar pria itu mendenguskan napas kesal, namun dengan suara yang masih tetap terdengar ramah, dia segera pamit meninggalkanku dan mengambil menu, “Oke, saya ulang ya, Kak. Satu Chucky Flucky dengan pasta spaghetti ukuran medium, satu Calamari, satu Italian Chocolate. Ada tambahan lagi, Kak?”
                Aku cepat-cepat menggeleng.
                “Mohon ditunggu makanannya, Kak.”
                Aku mengangguk dan masih terus terpaku pada laptop-ku, namun ada perasaan lain dalam hatiku, seperti ada yang kurang. Lalu, aku menghabiskan detik berikutnya untuk berpikir apa yang tertinggal, “Eh, Mas.”
                Pria itu menghentikan langkahnya dan segera menghampiriku. Ada detik saat mata kami bertemu, dan baru kali ini aku memperhatikan setiap detail wajah pria itu setelah selama beberapa menit tadi tak memperhatikan kehadirannya. Andry, kulihat tanda pengenalnya, nama yang baru saja mampir di otakku dan tiba-tiba saja menghancurkan seluruh syaraf di tubuhku. Jantungku berdebar tak karuan, aku terdiam menatap langkah pria itu yang semakin mendekat ke mejaku, waktu seakan-akan berhenti bergerak. Pria itu seakan melambat, namun dia semakin mendekatiku, dengan langkah pelan dan santai. Anggun dan berwibawa.
                Kacamatanya yang berkilauan beradu dengan cahaya remang-remang Warung Pasta lantai atas. Keningnya tidak terlalu lebar. Kepalanya lonjong namun terlihat tegas dengan rahang yang kuat dan dagu yang tidak terlalu lancip. Senyum lebarnya menambah kesan manis di wajah yang baru kali ini kulihat di Warung Pasta. Bibirnya tebal dan terlihat kenyal, aku sudah membayangkan bisa menyentuh bibir itu suatu saat nanti.
                “Ada apa, Kak? Ada tambahan?” ucap sosok berkacamata, yang tersenyum sangat manis di depanku. Aku melihat jelas barisan giginya yang tak terlalu rapi itu, namun senyumnya juga membuat bibirku melengkung—ikut tersenyum.
                “Spaghetti-nya jangan lupa ditambahin....” aku berpikir keras, seluruh kosakata di otakku seakan hilang tak berbekas. Menatap matanya benar-benar melumpuhkan laju kerja otakku.
                “Ditambahin apa, Kak?”
                Aku diam sebentar, membiarkan kami saling bertatap mata, membiarkan jantungku berdebar kencang, membiarkan dunia seakan kedap suara di sekelilingku; hanya ada aku dan pria itu yang saling bertatap mata dan bercengkrama.
                Pria itu memandangiku dengan wajah bingung, dia menatapku dengan tatapan aneh, “Jadi, mau ditambahin apa, Kak? Kok malah diem?”
                “Tambahin permesan cheese yang banyak.” jawabku cepat dengan rasa bersyukur yang amat dalam, karena telah dilemparkan kembali ke dunia nyata setelah beberapa detik yang lalu aku merasa seakan ada di surga.
                “Oh, iya, Kak. Saya kira ditambahin apaan dah.” komentarnya dengan nada becanda, logat Betawi yang sangat kental itu membawa kesan lain di telingaku. Suara yang mungkin setiap malam akan terdengar samar-samar di telingaku. Suara yang akan mengubah hari-hariku. “Saya tinggal dulu, Kak.”

                Aku menghela napas, aroma tubuh yang tiba-tiba sangat kurindukan itu hilang dengan sekejap. Kulanjutkan untuk kembali menulis di laptop-ku, namun konsentrasiku terlanjur buyar. Nama Andry mondar-mandir di otakku dan nama itu kusebut berkali-kali dalam hatiku. Aku tersenyum tanpa sebab berkali-kali. Aku jatuh cinta?

Memilih Pergi dan Berhenti

Diposting oleh Unknown di 02.45 0 komentar
Memilih Pergi dan Berhenti
Aku menghampirimu dengan beberapa buku di genggaman jemariku. Buku-buku mengenai keajaiban-keajaiban yang dilakukan Tuhan, mengenai khotbah sehari-hari, dan santapan rohani untuk saat teduh setiap pagi. Kamu tersenyum ke arahku, ketika kutunjukkan buku-buku yang sudah menjadi pilihanku. Sambil berbincang beberapa kalimat, kamu meminta pendapatku mengenai buku yang kamu pilih. Buku mengenai keajaiban saat berpuasa dan terapi salat tahajud. Aku mengangguk setuju, itu buku yang sama menariknya bagiku. 

Lalu, kamu menyodorkan sebuah buku yang lebih dulu kupunya; buku iqro. Kamu berkata dengan suara santai bahwa buku itu bisa membantuku melewati mata kuliah ikhtisar bahasa arab di jurusan kuliahku. Aku menggeleng lemah karena buku itu sudah lebih dulu kubeli ketika awal semester satu. Aku sudah menamatkannya sampai iqro lima. Memangnya kamu lupa? Waktu aku bisa menuliskan namamu dengan tulisan Arab dan seusai itu kamu tertawa setengah mati. Tulisan Arab yang belum sepenuhnya sempurna, dengan harakat tasydid yang belum terlalu rapi. Aku ikut tertawa ketika melihat kamu tertawa. Iya, kita pernah dalam keadaan bahagia dan baik-baik saja.

Sepulang dari toko buku di bilangan Depok itu, kita berjalan menuju parkiran sepeda motor. Seperti biasa, kamu menawarkan diri untuk membawa plastik berisi buku-buku yang kita beli. Kita sampai di depan honda beat merah milikmu, sepada motor yang sering kamu gunakan untuk membelah jalanan menuju cempaka putih, menuju kampus tempat kamu melahirkan kreativitas dan ide cemerlang. Tanpa kuminta, kamu membelai rambutku dengan sentuhan lembut, lantas memakaikan helm di kepalaku. Kamu juga mengenakan helm dan merapatkan jaket jeans birumu. Jaket yang selalu kusarankan untuk dicuci sekali dalam dua hari.

Dalam perjalanan menuju rumah temanku, kita bercerita banyak hal. Kamu berulang kali bercerita tentang telur balado dan ayam goreng. Masakan yang paling kaucintai, namun paling berbahaya bagimu. Aku ingat, Sayang. Kamu sakit maag dan perutmu tak mungkin bersahabat dengan sambal serta makanan berminyak. Lagipula, saat itu kamu juga sedang tidak makan dan tidak minum sampai merdu suara azan magrib menggema. Peristiwa selanjutnya, seperti peristiwa dalam film komedi romantis. Ketika kita berhenti sejenak di lampu merah dekat Jalan Juanda, kamu memutar kaca spion agar bisa menatap wajahku yang ada di belakangmu. Kamu menggenggam erat jemariku sambil melayangkan pandangan matamu ke arah kaca spion. Aku merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan. Aku percaya, Sayang, suatu saat nanti kita bisa bahagia dengan atau tanpa perjuangan yang berlebihan.

Aku selalu bahagia ketika bersamamu, entah dalam pertemuan atau dalam percakapan kita lewat telepon. Kamu selalu bilang bahwa yang kaurasakan bersamaku adalah kenyamanan yang tak kaurasakan pada mantan kekasihmu. Aku tersenyum dan merasa hatiku begitu hangat disentuh dengan ucapan seperti itu. Kamu juga selalu minta ditemani, walaupun hanya lewat pesan singkat, ketika mengerjakan tugas kuliahmu atau tugas membuat spanduk untuk karang taruna. Kita sudah begitu dekat, tapi salahku, sekali lagi, yang tak meminta status dan kejelasan padamu.
Sesampainya di depan rumah temanku, aku bermaksud mengenalkan sosokmu pada mereka. Kamu menjawab dengan gelengan mantap, katamu dengan tatapan meyakinkan; bahwa kamu masih harus kembali ke jalan Margonda untuk mengambil stempel. Aku membalas dengan senyuman yang sebenarnya dibalut dalam rasa kecewa. Aku turun dari sepeda motormu dan kamu membuka helm yang kukenakan. Sebelum kamu pamit pergi, kamu yang masih di atas sepeda motor, kembali memegang kepalaku dan membelai helai rambutku. Kamu menarikku dalam pelukan, pelukan yang tidak kubalas sepenuhnya. Aku langsung melepaskan pelukanmu dan mengingatkan padamu agar puasa yang kaujalani tidak makruh. Dengan tawamu yang kurasa tak begitu lepas, kamu akhirnya menerima nasihatku. Kamu melambaikan tangan dan pergi.

Dan, nyatanya, kamu memang benar-benar pergi. Setelah peristiwa itu, kabarmu tak lagi mampir di telingaku, di tatapku, juga di handphone-ku. Kamu menghilang seakan kita dulu tak pernah tahu dan bertemu. Aku bertanya-tanya tentang rasa kehilangan yang sebenarnya tak lagi asing bagiku. Tapi, tidak munafik jika setiap kehilangan pasti menghasilkan perasaan tersendiri; penyesalan, marah, dan rasa takut. 

Kita belum saling memperjuangkan juga saling membahagiakan, namun mengapa kamu sudah memilih pergi dan berhenti?


 

SEKAR WIDA AYU GRAITA Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos