Senin, 19 Mei 2014

Tuan Chucky Flucky

Diposting oleh Unknown di 02.46
Tuan Chucky Flucky
 untuk pria manis disampingku
yang memilih hilang
tanpa bilang-bilang

                Langit senja ini sedikit membawa kesejukkan di dada. Sehabis revisi skripsi tadi, rasanya kepalaku mau meledak mendengar ocehan dosenku, semua yang kulakukan seakan salah di mata beliau. Belum lagi editor-ku terus mengirim pesan agar revisi novel segela dirampungkan. Ingin kumuntahkan seluruh isi perutku ke wajahnya karena revisi ini sudah memasuki revisi keenam, apakah sebegitu tololnya aku?
                Aku terus melajukan mobil di antara padatnya jam pulang kantor. Di jam-jam seperti ini Depok layaknya jalur Gaza, seluruh pengguna jalan tak ada yang ingin mengalah. Setiap pengendara berebut untuk ngebut, aku berkali-kali menghela napas kesal karena keluar dari gerbang UI, mobilku kembali terkena macet di perjalanan menuju Margonda. Sesekali aku menatap langit untuk menyerap keteduhan dan berharap rasa kesalku hilang, kuputar lagu Tulus kemudian lagu Teman Hidup memenuhi seluruh mobilku.
                Beberapa menit kemudian, kuarahkan mobilku parkir di sebuah rumah makan dekat Lawson; Warung Pasta. Setelah mobil berhasil kuparkir, aku menata dandanan di wajahku dan merapikan rambutku yang ikut berantakan layaknya tugasku yang berantakan. Aku membawa beberapa buku untuk bahan skripsi di tangan kiriku dan membawa tas berisi laptop di tangan kananku. Langkahku mantap memasuki rumah makan tersebut.
                “Mau meja yang di atas lagi, Mbak?” sapa seorang perempuan yang dengan ramah mengajakku bicara.
                Aku mengangguk dengan senyum yang sama ramahnya, “Untuk satu orang.”
                Wanita itu, masih dengan senyum yang ramah, mengantarku ke meja atas. Tempat favoritku yang dekat dengan jendela, dekat dengan sumber energi untuk menjaga laptopku tetap menyala. Aku segera duduk dan mengucapkan terima kasih. Wanita itu pergi meninggalkanku dengan janji akan ada temannya yang lain untuk melayaniku.
                Aku sudah sibuk dengan laptop-ku, membuka halaman-halaman buku untuk segera merampungkan revisi skripsiku. Keseriusanku tak buyar bahkan ketika seseorang menghampiriku, dengan aroma parfum yang sangat laki-laki sekali.
                “Selamat sore, saya Andry. Kakak, silakan lihat menunya. Mau pesan apa?”
                “Chucky Flucky pastanya spaghetti, ukurannya medium. Calamari satu. Minumnya Italian Chocolate satu.” jawabku seadanya tanpa melihat menu, juga tanpa melihat pria itu bareng sedetik pun.
                Kudengar pria itu mendenguskan napas kesal, namun dengan suara yang masih tetap terdengar ramah, dia segera pamit meninggalkanku dan mengambil menu, “Oke, saya ulang ya, Kak. Satu Chucky Flucky dengan pasta spaghetti ukuran medium, satu Calamari, satu Italian Chocolate. Ada tambahan lagi, Kak?”
                Aku cepat-cepat menggeleng.
                “Mohon ditunggu makanannya, Kak.”
                Aku mengangguk dan masih terus terpaku pada laptop-ku, namun ada perasaan lain dalam hatiku, seperti ada yang kurang. Lalu, aku menghabiskan detik berikutnya untuk berpikir apa yang tertinggal, “Eh, Mas.”
                Pria itu menghentikan langkahnya dan segera menghampiriku. Ada detik saat mata kami bertemu, dan baru kali ini aku memperhatikan setiap detail wajah pria itu setelah selama beberapa menit tadi tak memperhatikan kehadirannya. Andry, kulihat tanda pengenalnya, nama yang baru saja mampir di otakku dan tiba-tiba saja menghancurkan seluruh syaraf di tubuhku. Jantungku berdebar tak karuan, aku terdiam menatap langkah pria itu yang semakin mendekat ke mejaku, waktu seakan-akan berhenti bergerak. Pria itu seakan melambat, namun dia semakin mendekatiku, dengan langkah pelan dan santai. Anggun dan berwibawa.
                Kacamatanya yang berkilauan beradu dengan cahaya remang-remang Warung Pasta lantai atas. Keningnya tidak terlalu lebar. Kepalanya lonjong namun terlihat tegas dengan rahang yang kuat dan dagu yang tidak terlalu lancip. Senyum lebarnya menambah kesan manis di wajah yang baru kali ini kulihat di Warung Pasta. Bibirnya tebal dan terlihat kenyal, aku sudah membayangkan bisa menyentuh bibir itu suatu saat nanti.
                “Ada apa, Kak? Ada tambahan?” ucap sosok berkacamata, yang tersenyum sangat manis di depanku. Aku melihat jelas barisan giginya yang tak terlalu rapi itu, namun senyumnya juga membuat bibirku melengkung—ikut tersenyum.
                “Spaghetti-nya jangan lupa ditambahin....” aku berpikir keras, seluruh kosakata di otakku seakan hilang tak berbekas. Menatap matanya benar-benar melumpuhkan laju kerja otakku.
                “Ditambahin apa, Kak?”
                Aku diam sebentar, membiarkan kami saling bertatap mata, membiarkan jantungku berdebar kencang, membiarkan dunia seakan kedap suara di sekelilingku; hanya ada aku dan pria itu yang saling bertatap mata dan bercengkrama.
                Pria itu memandangiku dengan wajah bingung, dia menatapku dengan tatapan aneh, “Jadi, mau ditambahin apa, Kak? Kok malah diem?”
                “Tambahin permesan cheese yang banyak.” jawabku cepat dengan rasa bersyukur yang amat dalam, karena telah dilemparkan kembali ke dunia nyata setelah beberapa detik yang lalu aku merasa seakan ada di surga.
                “Oh, iya, Kak. Saya kira ditambahin apaan dah.” komentarnya dengan nada becanda, logat Betawi yang sangat kental itu membawa kesan lain di telingaku. Suara yang mungkin setiap malam akan terdengar samar-samar di telingaku. Suara yang akan mengubah hari-hariku. “Saya tinggal dulu, Kak.”

                Aku menghela napas, aroma tubuh yang tiba-tiba sangat kurindukan itu hilang dengan sekejap. Kulanjutkan untuk kembali menulis di laptop-ku, namun konsentrasiku terlanjur buyar. Nama Andry mondar-mandir di otakku dan nama itu kusebut berkali-kali dalam hatiku. Aku tersenyum tanpa sebab berkali-kali. Aku jatuh cinta?

0 komentar:

Posting Komentar

 

SEKAR WIDA AYU GRAITA Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos