Tuan Chucky Flucky
untuk
pria manis disampingku
yang
memilih hilang
tanpa
bilang-bilang
Langit senja ini sedikit membawa kesejukkan di dada. Sehabis revisi skripsi
tadi, rasanya kepalaku mau meledak mendengar ocehan dosenku, semua yang kulakukan
seakan salah di mata beliau. Belum lagi editor-ku terus mengirim pesan agar
revisi novel segela dirampungkan. Ingin kumuntahkan seluruh isi perutku ke
wajahnya karena revisi ini sudah memasuki revisi keenam, apakah sebegitu
tololnya aku?
Aku terus melajukan mobil di antara padatnya jam pulang kantor. Di jam-jam
seperti ini Depok layaknya jalur Gaza, seluruh pengguna jalan tak ada yang
ingin mengalah. Setiap pengendara berebut untuk ngebut, aku berkali-kali menghela
napas kesal karena keluar dari gerbang UI, mobilku kembali terkena macet di
perjalanan menuju Margonda. Sesekali aku menatap langit untuk menyerap
keteduhan dan berharap rasa kesalku hilang, kuputar lagu Tulus kemudian lagu
Teman Hidup memenuhi seluruh mobilku.
Beberapa menit kemudian, kuarahkan mobilku parkir di sebuah rumah makan dekat
Lawson; Warung Pasta. Setelah mobil berhasil kuparkir, aku menata dandanan di
wajahku dan merapikan rambutku yang ikut berantakan layaknya tugasku yang berantakan.
Aku membawa beberapa buku untuk bahan skripsi di tangan kiriku dan membawa tas
berisi laptop di tangan kananku. Langkahku mantap memasuki rumah makan
tersebut.
“Mau meja yang di atas lagi, Mbak?” sapa seorang perempuan yang dengan ramah
mengajakku bicara.
Aku mengangguk dengan senyum yang sama ramahnya, “Untuk satu orang.”
Wanita itu, masih dengan senyum yang ramah, mengantarku ke meja atas. Tempat
favoritku yang dekat dengan jendela, dekat dengan sumber energi untuk menjaga
laptopku tetap menyala. Aku segera duduk dan mengucapkan terima kasih. Wanita
itu pergi meninggalkanku dengan janji akan ada temannya yang lain untuk
melayaniku.
Aku sudah sibuk dengan laptop-ku, membuka halaman-halaman buku untuk segera
merampungkan revisi skripsiku. Keseriusanku tak buyar bahkan ketika seseorang
menghampiriku, dengan aroma parfum yang sangat laki-laki sekali.
“Selamat sore, saya Andry. Kakak, silakan lihat menunya. Mau pesan apa?”
“Chucky Flucky pastanya spaghetti, ukurannya medium. Calamari satu. Minumnya
Italian Chocolate satu.” jawabku seadanya tanpa melihat menu, juga tanpa
melihat pria itu bareng sedetik pun.
Kudengar pria itu mendenguskan napas kesal, namun dengan suara yang masih tetap
terdengar ramah, dia segera pamit meninggalkanku dan mengambil menu, “Oke, saya
ulang ya, Kak. Satu Chucky Flucky dengan pasta spaghetti ukuran medium, satu
Calamari, satu Italian Chocolate. Ada tambahan lagi, Kak?”
Aku cepat-cepat menggeleng.
“Mohon ditunggu makanannya, Kak.”
Aku mengangguk dan masih terus terpaku pada laptop-ku, namun ada perasaan lain
dalam hatiku, seperti ada yang kurang. Lalu, aku menghabiskan detik berikutnya
untuk berpikir apa yang tertinggal, “Eh, Mas.”
Pria itu menghentikan langkahnya dan segera menghampiriku. Ada detik saat mata
kami bertemu, dan baru kali ini aku memperhatikan setiap detail wajah pria itu
setelah selama beberapa menit tadi tak memperhatikan kehadirannya. Andry,
kulihat tanda pengenalnya, nama yang baru saja mampir di otakku dan tiba-tiba
saja menghancurkan seluruh syaraf di tubuhku. Jantungku berdebar tak karuan,
aku terdiam menatap langkah pria itu yang semakin mendekat ke mejaku, waktu
seakan-akan berhenti bergerak. Pria itu seakan melambat, namun dia semakin
mendekatiku, dengan langkah pelan dan santai. Anggun dan berwibawa.
Kacamatanya yang berkilauan beradu dengan cahaya remang-remang Warung Pasta
lantai atas. Keningnya tidak terlalu lebar. Kepalanya lonjong namun terlihat
tegas dengan rahang yang kuat dan dagu yang tidak terlalu lancip. Senyum
lebarnya menambah kesan manis di wajah yang baru kali ini kulihat di Warung
Pasta. Bibirnya tebal dan terlihat kenyal, aku sudah membayangkan bisa
menyentuh bibir itu suatu saat nanti.
“Ada apa, Kak? Ada tambahan?” ucap sosok berkacamata, yang tersenyum sangat
manis di depanku. Aku melihat jelas barisan giginya yang tak terlalu rapi itu,
namun senyumnya juga membuat bibirku melengkung—ikut tersenyum.
“Spaghetti-nya jangan lupa ditambahin....” aku berpikir keras, seluruh kosakata
di otakku seakan hilang tak berbekas. Menatap matanya benar-benar melumpuhkan
laju kerja otakku.
“Ditambahin apa, Kak?”
Aku diam sebentar, membiarkan kami saling bertatap mata, membiarkan jantungku
berdebar kencang, membiarkan dunia seakan kedap suara di sekelilingku; hanya
ada aku dan pria itu yang saling bertatap mata dan bercengkrama.
Pria itu memandangiku dengan wajah bingung, dia menatapku dengan tatapan aneh,
“Jadi, mau ditambahin apa, Kak? Kok malah diem?”
“Tambahin permesan cheese yang banyak.” jawabku cepat dengan rasa bersyukur
yang amat dalam, karena telah dilemparkan kembali ke dunia nyata setelah
beberapa detik yang lalu aku merasa seakan ada di surga.
“Oh, iya, Kak. Saya kira ditambahin apaan dah.” komentarnya dengan nada
becanda, logat Betawi yang sangat kental itu membawa kesan lain di telingaku.
Suara yang mungkin setiap malam akan terdengar samar-samar di telingaku. Suara
yang akan mengubah hari-hariku. “Saya tinggal dulu, Kak.”
Aku menghela napas, aroma tubuh yang tiba-tiba sangat kurindukan itu hilang
dengan sekejap. Kulanjutkan untuk kembali menulis di laptop-ku, namun
konsentrasiku terlanjur buyar. Nama Andry mondar-mandir di otakku dan nama itu
kusebut berkali-kali dalam hatiku. Aku tersenyum tanpa sebab berkali-kali. Aku
jatuh cinta?
0 komentar:
Posting Komentar